Vitamin C
kenapa manusia kehilangan kemampuan memproduksi vitamin C sendiri padahal anjing dan kucing bisa
Pernahkah kita menyadari satu kebiasaan unik saat musim flu tiba? Secara refleks, kita pasti langsung berburu suplemen vitamin C. Kita minum air jeruk hangat, mengunyah tablet hisap rasa lemon, hingga mencari minuman kemasan dengan label vitamin C dosis tinggi. Kita sangat terobsesi dengan vitamin yang satu ini. Tapi, mari kita perhatikan anjing atau kucing peliharaan kita di rumah. Pernahkah teman-teman melihat mereka panik mencari buah jeruk saat sedang bersin-bersin? Tentu saja tidak. Alasannya sebenarnya sangat sederhana, namun sekaligus menyimpan misteri biologis yang epik. Hewan peliharaan kita itu bisa memproduksi vitamin C sendiri di dalam tubuhnya, tepatnya di organ hati mereka. Begitu juga dengan sapi, burung, dan sebagian besar hewan mamalia lainnya. Mereka punya pabrik vitamin C internal. Sementara kita, manusia, sama sekali tidak punya. Pertanyaannya adalah, kenapa tubuh kita kehilangan kemampuan luar biasa ini?
Ketidakmampuan kita memproduksi vitamin C ini bukan sekadar ketidaknyamanan kecil belaka. Dalam catatan sejarah, kelemahan biologis ini pernah menjadi mimpi buruk yang sangat mematikan. Mari kita mundur sejenak ke era penjelajahan samudra beberapa abad yang lalu. Saat itu, jutaan pelaut tangguh mati dengan cara yang mengenaskan di tengah lautan. Gigi mereka rontok, gusi mereka berdarah tiada henti, dan luka lama di tubuh mereka tiba-tiba terbuka kembali. Kondisi mengerikan ini dikenal dengan sebutan scurvy atau skorbut. Selama bertahun-tahun, penyebab penyakit ini menjadi misteri besar bagi umat manusia. Sampai akhirnya sains menemukan jawabannya: para pelaut itu sekadar kekurangan asupan vitamin C. Namun, ada fakta ilmiah yang jauh lebih mengejutkan yang baru terungkap pada era modern. Ketika para ahli genetika membedah DNA manusia, mereka menemukan sesuatu yang aneh. Kita sebenarnya memiliki cetak biru genetika untuk membuat vitamin C. Gen itu ada tertanam di dalam DNA kita. Masalahnya, gen tersebut rusak. Seperti mesin yang kabelnya terputus, gen itu tidak berfungsi lagi.
Penemuan tentang gen yang rusak ini tentu memancing rasa penasaran kita lebih jauh. Dari sudut pandang psikologi evolusioner dan biologi, hal ini sangat tidak masuk akal. Prinsip dasar evolusi adalah seleksi alam. Sifat yang menguntungkan akan dipertahankan, dan kelemahan fatal biasanya akan dibuang perlahan. Jika ketidakmampuan memproduksi vitamin C bisa membunuh jutaan orang, kenapa evolusi membiarkan gen yang rusak ini tetap ada di tubuh kita? Kenapa alam tidak menyingkirkan manusia-manusia dengan gen cacat ini sejak jutaan tahun yang lalu? Pasti ada sesuatu yang terjadi di masa lalu. Sesuatu yang membuat kerusakan genetik ini justru tidak berbahaya sama sekali bagi nenek moyang kita. Bukankah aneh membayangkan bahwa "cacat bawaan" yang membunuh para pelaut tangguh ini, dulunya justru bukan sebuah masalah? Apa yang sebenarnya membedakan cara hidup nenek moyang purba kita dengan para pelaut malang tersebut?
Misteri besar ini akhirnya terjawab ketika para ilmuwan menelusuri pohon keluarga primata. Kerusakan pada gen yang bernama GULO (L-gulonolactone oxidase) ini ternyata terjadi sekitar 61 juta tahun yang lalu. Saat itu, nenek moyang primata kita hidup bahagia di tengah hutan tropis yang sangat rimbun. Coba kita bayangkan lingkungan hidup mereka saat itu. Mereka dikelilingi oleh prasmanan alam tanpa batas berupa buah-buahan segar dan dedaunan yang tumpah ruah akan vitamin C. Karena nenek moyang kita mengonsumsi vitamin C dalam jumlah yang sangat masif setiap harinya, tubuh mereka perlahan mengambil keputusan yang sangat efisien. Memproduksi vitamin C sendiri ternyata membutuhkan banyak energi metabolik. Evolusi pun bekerja dengan logika sederhananya: buat apa membuang energi dari dalam tubuh untuk memproduksi sesuatu yang sudah sangat melimpah di makanan kita? Jadi, ketika terjadi mutasi acak yang merusak gen GULO, mutasi itu sama sekali tidak membunuh mereka. Nenek moyang kita tetap hidup sehat karena asupan dari luar sudah lebih dari cukup. Kita kehilangan pabrik vitamin C internal kita karena kita menukarnya dengan efisiensi energi. Sebuah trade-off evolusioner. Cacat genetik ini baru menjadi bencana jutaan tahun kemudian, tepatnya ketika manusia modern memutuskan untuk berlayar berbulan-bulan di lautan tanpa membawa buah segar.
Kisah tentang vitamin C ini bukan sekadar pelajaran biologi yang kaku. Ini adalah sebuah pengingat yang sangat membumi tentang siapa kita sebenarnya. Tubuh kita bukanlah mesin sempurna yang dirancang tanpa celah sejak awal. Kita adalah produk dari lingkungan masa lalu kita; sebuah perpaduan dari berbagai strategi bertahan hidup. Sejarah evolusi ini mengajarkan kita untuk lebih berempati pada tubuh kita sendiri, memahami bahwa kita membawa warisan hutan purba di setiap sel DNA kita. Mungkin, saat teman-teman mengupas jeruk atau meminum suplemen vitamin C setelah membaca ini, rasanya akan sedikit berbeda. Kita tidak sekadar meminum suplemen kesehatan. Kita sedang melakukan ritual purba, mengulangi persis apa yang dilakukan nenek moyang kita di hutan tropis puluhan juta tahun lalu. Kita menambal sebuah "kerusakan genetik" yang pada akhirnya justru membuat spesies kita mampu bertahan hidup hingga hari ini. Menarik sekali bukan, menyadari bahwa sebuah ketidaksempurnaan bisa menjadi bukti betapa panjang dan menakjubkannya perjalanan umat manusia?